Ekonomi Tertekan karena Corona, Dolar Singapura Kini Rp 9.800

Ekonomi Tertekan karena Corona, Dolar Singapura Kini Rp 9.800

Nilai tukar dolar Singapura kembali melemah melawan rupiah pada perdagangan Kamis (6/2/2020) hingga menembus ke bawah Rp 9.900/SG$. Wabah virus corona yang dikhawatirkan akan menekan perekonomian Negeri Merlion terus membuat dolar Singapura tertekan.

Pada pukul 10:43 WIB, SG$ 1 setara dengan Rp 9.83,48, dolar Singapura melemah 0,51% di pasar spot, melansir data Refinitiv. Titik tersebut merupakan yang terlemah sejak Oktober 2017.

Berdasarkan data Arcgis, korban meninggal akibat virus corona kini mencapai 565 orang dan menjangkiti lebih dari 28.000 orang di berbagai negara, Singapura menjadi negara dengan penderita virus corona terbanyak ketiga, setelah Jepan dan China yang menjadi asal virus tersebut.

Hingga saat ini, sebanyak 28 pasien di Singapura dinyatakan positif mengidap virus corona. Selain jumlah pasien yang terus bertambah, sektor pariwisata Singapura juga terpukul. Negeri Merlion merupakan salah satu tujuan wisata favorit di Asia, juga merupakan travel hub regional. Akibat wabah virus corona, jumlah wisatawan asal Negeri Tiongkok diprediksi akan menurun drastis.

Berdasarkan data Singapore Tourism Board (STB) sepanjang tahun 2019, ada sebanyak 3,6 juta wisatawan dari China yang berkunjung ke Singapura, angka tersebut merupakan 20% dari total wisatawan sepanjang tahun lalu.

“Sektor pariwisata telah terkena dampak langsung dari penyebaran virus corona, akibat penurunan kedatangan wisatawan, khususnya dari China” kata STB sebagaimana dilansir Channel News Asia. Untuk mitigasi dampak virus corona, STB memberikan insentif dengan meniadakan biaya lisensi untuk hotel, travel agent, dan tour guide. STB juga akan membiayai pembersihan hotel yang menyediakan akomodasi bagi pasien yang positif maupun terduga terjangkit virus corona.

Sementara itu, Menteri Perdagangan dan Industri Singapura, Chan Chun Sing, mengatakan Singapura harus “siap secara mental” menghadapi virus corona yang dampaknya akan lebih “luas, dalam, dan panjang” dari wabah SARS tahun 2003 lalu. Sebabnya, nilai perdagangan Singapura dan China saat ini sudah naik empat kali lipat dibandingkan tahun 2003 “Apa yang harus kita siapkan secara mental adalah dampak dari gangguan yang akan dialami ekonomi China, pada rantai pasokan, yang akan lebih luas, dan lebih dalam karena keterkaitan dengan ekonomi global, dan pastinya dengan ekonomi Singapura” kata Chan sebagaimana dilansir Channel News Asia.

Sejak munculnya wabah corona dua pekan lalu, dolar Singapura sudah melemah 2,7% melawan rupiah, dan sejak awal tahun tercatat merosot 4,67%.

Sumber