Joss! Rupiah Masih Perkasa bagi Dolar Singapura

Joss! Rupiah Masih Perkasa bagi Dolar Singapura

Kurs dolar Singapura kembali melemah melawan rupiah pada perdagangan Kamis (28/11/19) setelah berakhir stagnan Rabu kemarin.

Begitu perdagangan hari ini dibuka dolar Singapura langsung masuk ke zona merah, terus tertekan hingga melemah 0,15% ke Rp 10.303,7/SG$.

Dalam perjalanannya mata uang Negeri Merlion berhasil memangkas pelemahan dan berada di level Rp 10.317,69/SG$ atau masih melemah 0,02% pada pukul 11:11 WIB di pasar spot, berdasarkan data Refinitiv.

Pelemahan di pasar spot juga berdampak pada kurs jual beli di dalam negeri. Berikut beberapa kurs dolar Singapura yang diambil dari situs resmi beberapa bank pada pukul 11:20 WIB.

BankKurs BeliKurs Jual
Bank BNI10.294,0010.351,00
Bank BRI10.252,0710.394,75
Bank Mandiri10.290,0010.345,00
Bank BTN10.157,0010.468,00
Bank BCA10.308,6310.328,97
CIMB Niaga10.317,0010.329,00

Data ekonomi terbaru yang dirilis belakangan ini menunjukkan masih rapuhnya perekonomian Singapura. Produk domestik bruto (PDB) Singapura di kuartal III-2019 dilaporkan hanya tumbuh 0,5% year-on-year (YoY). Pertumbuhan tersebut membaik dari kuartal sebelumnya 0,2% YoY. Meski demikian, PDB kuartal III-2019 tersebut jauh melambat dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 2,6% YoY.

Pelambatan tersebut memaksa pemerintah Singapura memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini menjadi 0-1% dibandingkan proyeksi sebelumnya 1,5-2,5%.

Berdasarkan data dari Trading Economics yang dirilis Senin (25/11/19), inflasi Singapura di bulan Oktober dilaporkan tumbuh 0,4% year-on-year (YoY), melambat dari pertumbuhan bulan sebelumnya 0,5%. Bahkan jika dilihat secara bulanan atau month-on-month (MoM) mengalami deflasi 0,4% di bulan Oktober.

Sementara tingkat produksi manufaktur di bulan Oktober dilaporkan tumbuh 4% secara tahunan atau year-on-year (YoY). Sementara, jika dilihat secara bulanan month-on-month (MoM), produksi manufaktur tumbuh 3,4%.

Rilis data tersebut lebih baik dibandingkan konsensus di Trading Economics yang justru menunjukkan penurunan 1,7% YoY dan 0,4% MoM.

Sumber

Translate »
×