Sejak 1960, Ini Kedai Mie Paling Legendaris di Lampung

Semangkuk Mie Khodon khas Lampung.

Selasa (24/8/2019) sekitar pukul 18.30 WIB, dengan perut keroncongan akibat menahan lapar, tim Merapah Trans Sumatera 2019 menyusuri jalanan di Bandar Lampung. Tujuan kami cuma satu: gerai Mie Khodon yang konon paling legendaris di kota tersebut. Dalam benak kami terbayang-bayang semangkuk mi berkuah kaldu nan kental, dengan topping telur dan sayur-mayur serta suwiran ayam. Mobil perlahan mendekati Jalan Ikan Bawal yang merupakan satu-satunya lokasi gerai Mie Khodon. Namun, harapan kami sirna ketika seorang pelayan dengan berkata dengan lantang, “Mie-nya sudah habis!” Saya menghela nafas panjang. Merelakan bayang-bayang Mie Khodon ditelan bumi untuk sementara.

Jumat (27/8/2019), kali itu sekitar pukul 16.00 WIB, tim Merapah Trans Jawa 2019 kembali menyusuri jalanan Bandar Lampung. Tujuan kami masih sama: gerai Mie Khodon yang bikin penasaran. Beruntung jalan di depan gerai tersebut masih ramai. Mobil masih parkir berderet-deret. Gerai masih buka. Mi masih tersedia! Saya langsung memesan semangkuk mie kuah. Beberapa teman memesan mi goreng. Ada juga yang memesan mi nyemek, perpaduan antara kuah dan goreng. Es jeruk selasih menjadi pelepas dahaga sore itu.

Proses pembuatan Mie Khodon di Jalan Ikan Bawal, Bandar Lampung.
Proses pembuatan Mie Khodon di Jalan Ikan Bawal, Bandar Lampung.(KOMPAS.COM/RODERICK ADRIAN MOZES)

Semangkuk Mie Khodon akhirnya tiba di depan mata. Seperti yang dibayangkan, mi buatan tangan memenuhi mangkuk besar. Kuahnya kental, dengan aroma ebi (udang kering) yang kuat. Sayur-mayur dan suwiran ayam berjumlah sangat royal.

Penjual Mie Khodon, Lampung

Sejak 1960 Cita rasa Mie Khodon tak berubah sejak gerai tersebut dibuka pada 1960. Pemilik gerai Mie Khodon saat ini adalah Subarno, yang merupakan cucu langsung dari pemilik awalnya. Mie Khodon memang dikelola secara turun-temurun oleh keluarga Subarno. Nama “Khodon” sendiri berasal dari panggilan kakek Subarno. Dulu, sekitar tahun 1960, kakeknya berjualan mie dengan cara dipikul di Jalan Ikan Tenggiri, Telukbetung. Jualannya kemudian dilanjutkan oleh ayah Subarno yang bernama Manto. Setelah saya mencicipi semangkuk mi ini, rahasia kenikmatan Mie Khodon bukan terletak pada bumbu atau topping yang royal. Kenikmatannya terasa dari tekstur dan kekenyalan mi buatan tangan. Baru kali ini saya mencicipi mi dengan kekenyalan yang pas, tak alot dan tidak terlalu lembut, dan berpadu sempurna dengan kuah kaldu. Mau tahu betapa larisnya Mie Khodon? Setiap harinya, gerai ini dibuka pukul 13.00 WIB. Sebetulnya jam tutup gerai adalah pukul 19.00 WIB. Namun, ketika saya dan tim tiba di gerai Mie Khodon pukul 16.30 WIB, salah satu pelayan berteriak “Mie habis!” sekitar 10 menit kemudian. Ia kemudian memasang papan bertuliskan “Mie habis coy!!!” di bagian depan gerai. Giliran saya yang bernafas lega. Kuliner legendaris di Lampung, checked!

Gerai Mie Khodon di Jalan Ikan Bawal, Bandar Lampung.
Gerai Mie Khodon di Jalan Ikan Bawal, Bandar Lampung.(KOMPAS.COM/RODERICK ADRIAN MOZES)

Sumber

Translate »
×